Oleh : Yohanes Wandikbo )*
Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) di Papua terus memperlihatkan dampak positif dalam memperluas akses layanan kesehatan bagi seluruh masyarakat Indonesia. Kebijakan ini menjadi bagian penting dari transformasi sistem kesehatan nasional yang menekankan pada upaya promotif dan preventif, sekaligus memastikan setiap warga negara mendapatkan layanan kesehatan yang layak dan merata.
Di Kota Sorong, Papua Barat Daya, pelaksanaan program ini menunjukkan capaian yang menggembirakan. Evaluasi yang dilakukan Dinas Kesehatan setempat tidak hanya menjadi sarana pengawasan, tetapi juga dorongan untuk meningkatkan kualitas layanan. Kepala Dinas Kesehatan Kota Sorong, Jemima Elisabeth Lobat, menilai bahwa program CKG merupakan bagian integral dari pelayanan kesehatan nasional yang bertujuan meningkatkan deteksi dini penyakit sekaligus memperluas akses masyarakat terhadap layanan kesehatan.
Sepanjang tahun 2025, program ini telah berjalan di 10 puskesmas yang tersebar di seluruh distrik di Kota Sorong. Dari total 8.434 pendaftar, sebanyak 7.350 warga hadir dan mengikuti pemeriksaan kesehatan. Angka ini mencerminkan tingkat partisipasi masyarakat yang tinggi serta meningkatnya kesadaran akan pentingnya pemeriksaan kesehatan secara rutin. Dalam pandangan Kepala Dinas Kesehatan Kota Sorong, Jemima Elisabeth Lobat, capaian tersebut menunjukkan bahwa kebijakan pemerintah telah diterima dengan baik oleh masyarakat.
Keberhasilan ini juga terlihat dari keragaman kelompok usia peserta, mulai dari bayi hingga lanjut usia. Hal ini menandakan bahwa program CKG tidak bersifat eksklusif, melainkan inklusif dan menyasar seluruh lapisan masyarakat. Deteksi dini terhadap berbagai potensi penyakit di tingkat puskesmas memungkinkan penanganan lebih cepat, sehingga dapat mencegah komplikasi yang lebih serius dan mengurangi beban pembiayaan kesehatan di masa depan.
Lebih jauh, program ini juga didukung oleh sistem pencatatan berbasis aplikasi Satu Sehat yang terintegrasi secara nasional. Meskipun masih terdapat kendala teknis seperti keterbatasan pemahaman petugas dan gangguan jaringan internet, pemerintah daerah tetap menunjukkan komitmen untuk melakukan perbaikan. Kepala Dinas Kesehatan Kota Sorong, Jemima Elisabeth Lobat mengharapkan adanya penyederhanaan sistem serta peningkatan kualitas jaringan agar pelayanan dapat berjalan lebih optimal.
Tidak hanya di wilayah perkotaan, kehadiran negara melalui program CKG juga dirasakan di daerah terpencil dan rawan akses. Di Kampung Lima-Lima, Distrik Mulia, Kabupaten Puncak Jaya, Papua Tengah, Satuan Tugas Pengamanan Perbatasan Yonif 136/Tuah Sakti turut mengambil peran aktif dalam memberikan layanan kesehatan gratis kepada masyarakat. Inisiatif ini menjadi bukti bahwa sinergi antara sektor kesehatan dan pertahanan mampu memberikan dampak positif yang luas.
Danpos KP Lima-Lima Satgas Pamtas Yonif 136/TS, Letda Inf Jantonius Parulian Sitompul, memandang bahwa pelayanan kesehatan keliling yang dilakukan merupakan wujud nyata kepedulian TNI dalam membantu masyarakat di wilayah penugasan. Ia menilai bahwa kehadiran prajurit tidak hanya sebatas menjaga keamanan, tetapi juga membawa harapan baru melalui pelayanan kesehatan yang selama ini terbatas.
Pendekatan humanis yang dilakukan oleh para prajurit, termasuk tenaga kesehatan yang terlibat, turut memperkuat hubungan emosional dengan masyarakat. Danpos KP Lima-Lima Satgas Pamtas Yonif 136/TS, Letda Inf Jantonius Parulian Sitompul menilai bahwa interaksi langsung dengan warga menciptakan suasana keakraban yang mendorong masyarakat lebih terbuka dalam memanfaatkan layanan kesehatan. Hal ini menjadi modal sosial yang penting dalam membangun kepercayaan terhadap negara.
Keberhasilan program CKG juga tercermin di Kabupaten Mimika, Papua Tengah. Capaian pelaksanaan program ini bahkan mencapai 88 persen dari target nasional. Angka tersebut menunjukkan efektivitas strategi yang diterapkan pemerintah daerah dalam mengintegrasikan program nasional dengan inovasi lokal. Kepala Dinas Kesehatan Mimika, Reynold Rizal Ubra menilai bahwa kolaborasi antara program CKG dengan inisiatif daerah seperti puskesmas jalan kaki dan pemeriksaan kesehatan lengkap menjadi kunci tingginya capaian tersebut.
Menurut Kepala Dinas Kesehatan Mimika, Reynold Rizal Ubra, partisipasi masyarakat di wilayahnya sangat optimal, yang menunjukkan bahwa pendekatan pemerintah dalam menghadirkan layanan kesehatan gratis telah sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Dengan pelaksanaan di 26 puskesmas yang tersebar di 18 distrik, program ini mampu menjangkau wilayah yang luas dan beragam.
Capaian di Sorong, Puncak Jaya, dan Mimika menjadi bukti bahwa program CKG bukan sekadar kebijakan administratif, melainkan gerakan nyata yang membawa perubahan. Pemerintah tidak hanya fokus pada pengobatan, tetapi juga pada pencegahan dan edukasi kesehatan. Dampak jangka panjangnya adalah peningkatan kualitas hidup masyarakat serta penguatan sistem kesehatan nasional secara menyeluruh.
Ke depan, optimalisasi program ini menjadi tantangan sekaligus peluang. Pemerintah perlu terus memperkuat infrastruktur, meningkatkan kapasitas sumber daya manusia, serta memastikan dukungan teknologi yang memadai. Namun dengan fondasi yang telah dibangun saat ini, optimisme terhadap keberlanjutan program CKG di Papua sangat beralasan.
CKG di Papua adalah cerminan nyata dari kehadiran negara yang tidak hanya terlihat di pusat, tetapi juga dirasakan hingga ke pelosok negeri. Kebijakan ini menjadi bukti bahwa pembangunan kesehatan yang inklusif bukan sekadar wacana, melainkan sebuah keniscayaan yang terus diwujudkan.
)* Penulis merupakan Pengamat Pembangunan Papua











Leave a Reply