Oleh: Asep Faturahman)*
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) semakin menunjukkan peran strategisnya, tidak hanya dalam meningkatkan kualitas gizi masyarakat, tetapi juga sebagai penggerak utama dalam perluasan lapangan kerja. Dengan skema yang melibatkan berbagai sektor, mulai dari produksi pangan hingga distribusi, MBG menghadirkan efek berantai yang signifikan terhadap penciptaan peluang kerja baru di berbagai daerah.
Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan bahwa program MBG memiliki potensi besar dalam menciptakan lapangan kerja dalam skala luas. Program ini diperkirakan mampu menyerap hingga sekitar satu juta tenaga kerja, baik secara langsung melalui operasional program maupun tidak langsung melalui aktivitas ekonomi yang ditimbulkan. Penyerapan tenaga kerja ini menjadi salah satu faktor utama yang mendorong kontribusi MBG terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.
Berdasarkan pendekatan data Badan Pusat Statistik (BPS), setiap pertumbuhan ekonomi sebesar satu persen umumnya diikuti dengan penciptaan sekitar 450 ribu lapangan kerja. Dengan demikian, kontribusi MBG yang diperkirakan mencapai satu persen terhadap pertumbuhan ekonomi menunjukkan adanya potensi besar dalam memperluas kesempatan kerja. Meski sebagian tenaga kerja berasal dari peralihan sektor lain, program ini tetap memberikan dampak nyata dalam meningkatkan akses masyarakat terhadap pekerjaan.
Perluasan lapangan kerja melalui MBG sangat bergantung pada efektivitas implementasi program di lapangan. Ketika program dijalankan secara optimal, peluang kerja yang tercipta tidak hanya bertambah dari sisi jumlah, tetapi juga semakin merata di berbagai wilayah, termasuk daerah yang selama ini memiliki keterbatasan akses ekonomi.
Kontribusi besar terhadap penciptaan lapangan kerja juga datang dari pembangunan dan operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana mengatakan bahwa investasi masyarakat dalam pembangunan SPPG telah mencapai sekitar Rp54 triliun. Besarnya nilai investasi ini mencerminkan tingginya partisipasi publik sekaligus memperkuat kapasitas program dalam membuka peluang kerja baru secara masif.
Hingga kini, sekitar 27.000 unit SPPG telah beroperasi di seluruh Indonesia. Setiap unit yang dibangun mampu menyerap sekitar 15 hingga 20 tenaga kerja lokal selama tahap konstruksi. Angka ini menunjukkan bahwa bahkan sebelum beroperasi, MBG sudah memberikan kontribusi langsung terhadap penyerapan tenaga kerja di tingkat daerah. Dibandingkan dengan pembangunan yang hanya mengandalkan anggaran pemerintah, keterlibatan investor terbukti mempercepat proses pembangunan sekaligus memperluas dampak penciptaan kerja.
Setelah beroperasi, peran SPPG dalam membuka lapangan kerja semakin terlihat. Setiap unit melibatkan puluhan tenaga kerja lokal dalam operasional harian, termasuk relawan yang memperoleh penghasilan tetap. Secara nasional, program ini telah melibatkan sekitar 1,1 juta relawan, yang menjadi bagian penting dalam mendukung keberlangsungan layanan MBG. Hal ini menunjukkan bahwa program ini tidak hanya menciptakan pekerjaan formal, tetapi juga memperluas kesempatan kerja berbasis komunitas.
Selain menciptakan pekerjaan langsung, MBG juga mendorong terbentuknya lapangan kerja tidak langsung melalui rantai pasok pangan. Sekitar 70 persen anggaran operasional SPPG digunakan untuk membeli bahan baku dari petani, peternak, nelayan, dan pelaku UMKM. Kondisi ini membuka peluang usaha baru serta meningkatkan permintaan tenaga kerja di sektor-sektor tersebut. Dengan meningkatnya aktivitas produksi dan distribusi, kebutuhan tenaga kerja di tingkat lokal pun ikut bertambah.
Selain itu, keberadaan MBG turut menciptakan stabilitas ekonomi bagi pelaku usaha kecil dan menengah. Permintaan yang konsisten dari SPPG memberikan kepastian pasar, sehingga mendorong pelaku usaha untuk meningkatkan kapasitas produksi dan memperluas tenaga kerja. Dampak ini menjadikan MBG sebagai salah satu program yang mampu mengintegrasikan kebijakan sosial dengan penciptaan lapangan kerja secara berkelanjutan.
Program ini juga memberikan manfaat kepada sekitar 62 juta penerima, termasuk kelompok rentan seperti ibu hamil, ibu menyusui, dan anak balita. Dengan meningkatnya kualitas gizi masyarakat, produktivitas tenaga kerja dalam jangka panjang juga berpotensi meningkat. Hal ini memperkuat hubungan antara investasi sosial dan pertumbuhan ekonomi yang inklusif.
Perluasan SPPG hingga menjangkau wilayah terpencil menjadi langkah strategis untuk memperluas dampak penciptaan lapangan kerja. Target pengembangan ribuan unit tambahan diharapkan dapat membuka peluang kerja baru sekaligus memperkuat perekonomian daerah. Dengan dukungan kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan dunia usaha, MBG berpotensi menjadi motor utama dalam menciptakan lapangan kerja yang luas dan merata di seluruh Indonesia.
Sebagai penguatan, keberhasilan MBG dalam memperluas lapangan kerja mencerminkan model pembangunan yang inklusif dan berorientasi pada pemberdayaan masyarakat. Program ini tidak hanya membuka peluang kerja dalam jumlah besar, tetapi juga memastikan keterlibatan aktif masyarakat lokal dalam setiap rantai nilai, sehingga manfaat ekonomi dapat dirasakan secara langsung dan berkelanjutan di tingkat akar rumput.
Secara keseluruhan, MBG membuktikan bahwa program berbasis pemenuhan kebutuhan dasar dapat dirancang sebagai instrumen produktif dalam memperluas lapangan kerja. Dengan pendekatan yang terintegrasi dan partisipatif, program ini tidak hanya meningkatkan kesejahteraan masyarakat, tetapi juga mendorong terbentuknya ekosistem ekonomi yang lebih inklusif dan berkelanjutan.
)* Penulis adalah Mahasiswa Ekonomi di Bandung












Leave a Reply