Jangan Biarkan Provokasi KNPB Mengganggu Masa Depan Papua

Oleh : Loa Murib

Masa depan Papua tidak semestinya ditentukan oleh ketegangan, provokasi, atau aktivitas kelompok yang berpotensi mengganggu ketenteraman masyarakat. Papua memiliki potensi besar untuk terus berkembang melalui pembangunan, pendidikan, penguatan ekonomi masyarakat, serta pelestarian nilai-nilai adat dan budaya. Karena itu, stabilitas keamanan dan kedamaian harus ditempatkan sebagai kepentingan bersama yang tidak boleh dikorbankan oleh kepentingan kelompok tertentu, termasuk oleh narasi maupun aktivitas Komite Nasional Papua Barat (KNPB) yang dinilai sejumlah tokoh masyarakat dapat menimbulkan keresahan.

Tokoh masyarakat adat Kabupaten Tolikara, Karmin Yikwa, menilai masyarakat Papua memiliki kepentingan yang sama untuk menjaga lingkungan tetap aman dan harmonis. Menurutnya, masyarakat adat membutuhkan suasana kondusif agar dapat menjalankan kehidupan sehari-hari sekaligus mendukung keberlanjutan pembangunan. Pandangan tersebut menunjukkan bahwa kebutuhan mendasar masyarakat Papua sesungguhnya sangat konkret, yakni keamanan, pendidikan yang baik, akses kesehatan, kesempatan ekonomi, serta masa depan yang lebih layak bagi generasi berikutnya.

Karmin juga menekankan bahwa nilai-nilai kearifan lokal, persaudaraan, dan saling menghormati merupakan modal sosial yang sangat penting bagi Papua. Nilai tersebut tidak boleh terkikis oleh narasi yang mempertajam perbedaan. Justru di tengah keberagaman masyarakat Papua, semangat hidup berdampingan harus terus diperkuat. Perdamaian bukan sekadar keadaan tanpa konflik, melainkan fondasi yang memungkinkan masyarakat mengembangkan potensi daerah dan menikmati hasil pembangunan secara berkelanjutan.

Pandangan serupa disampaikan sejumlah Ondofolo di Kabupaten Jayapura yang mengingatkan masyarakat agar tidak mudah terprovokasi oleh narasi maupun aktivitas KNPB yang dinilai berpotensi mengganggu keamanan. Ondofolo Dasim Kleubeuw, Harly Ohei, menekankan pentingnya masyarakat mempertimbangkan dampak setiap kegiatan terhadap keamanan dan kehidupan sosial. Bagi masyarakat, tindakan yang pada awalnya dianggap sebagai bentuk penyampaian aspirasi dapat berubah menjadi persoalan yang lebih besar apabila tidak dikendalikan dan kemudian memicu tindakan anarkis.

Kekhawatiran tersebut patut menjadi bahan perenungan. Ketika situasi keamanan terganggu, masyarakat biasa sering menjadi pihak yang paling merasakan dampaknya. Aktivitas ekonomi dapat terganggu, kegiatan pendidikan tidak berjalan optimal, pelayanan publik menghadapi hambatan, sementara keluarga harus menghadapi ketidakpastian. Pada akhirnya, masyarakat kecil yang tidak memiliki kepentingan dalam konflik justru dapat menanggung konsekuensi paling besar.

Ondofolo Kampung Asei Besar, Marthen Ohee, juga menilai bahwa masyarakat adat tidak semestinya secara otomatis dianggap mendukung setiap agenda yang mengatasnamakan kepentingan masyarakat Papua. Pandangan tersebut penting karena masyarakat Papua bukanlah kelompok yang memiliki satu suara untuk seluruh persoalan. Terdapat beragam komunitas, wilayah adat, latar belakang sosial, serta aspirasi yang perlu dihormati. Karena itu, tidak tepat apabila kepentingan seluruh masyarakat Papua disederhanakan menjadi kepentingan satu kelompok atau organisasi.

Peringatan Marthen agar masyarakat lebih memprioritaskan keluarga dan kegiatan ekonomi juga memiliki relevansi yang kuat. Kehidupan masyarakat tidak berhenti pada persoalan politik. Ada keluarga yang harus memenuhi kebutuhan sehari-hari, anak-anak yang membutuhkan pendidikan, petani yang harus mengelola lahan, pelaku usaha yang harus mempertahankan usahanya, serta generasi muda yang membutuhkan ruang untuk mengembangkan kemampuan. Semua itu membutuhkan suasana yang aman dan stabil.

Sementara itu, Ondofolo Kampung Adat Homfolo, Anderson Tokoro, mengingatkan agar penyampaian pendapat tetap dilakukan dengan menghormati hukum dan norma adat. Prinsip tersebut sejalan dengan kebutuhan masyarakat Papua untuk membangun tradisi dialog yang sehat. Aspirasi tidak harus dihilangkan, tetapi cara menyampaikannya harus menghindari tindakan yang dapat mengancam keselamatan masyarakat atau merusak ketertiban umum.

Di sinilah peran generasi muda Papua menjadi sangat penting. Anak-anak muda merupakan kelompok yang paling menentukan arah Papua dalam beberapa dekade mendatang. Energi, kreativitas, dan keberanian mereka seharusnya diarahkan pada pendidikan, kewirausahaan, teknologi, olahraga, kebudayaan, serta berbagai kegiatan produktif. Ruang digital pun perlu dimanfaatkan untuk menyebarkan informasi yang mencerahkan, bukan memperbesar kebencian, permusuhan, atau ketegangan.

Pemerintah, tokoh adat, tokoh agama, tokoh masyarakat, pemuda, dan seluruh elemen sosial juga memiliki tanggung jawab untuk memperkuat literasi publik. Masyarakat perlu dibiasakan memeriksa informasi sebelum mempercayainya, memahami konteks sebuah ajakan, serta mempertimbangkan konsekuensi sebelum mengambil tindakan. Ketahanan masyarakat terhadap provokasi tidak cukup dibangun melalui pendekatan keamanan, tetapi juga melalui pendidikan, dialog, dan penguatan kepercayaan sosial.

Pada akhirnya, Papua membutuhkan lebih banyak ruang untuk membangun daripada ruang untuk berkonflik. Pembangunan hanya dapat memberikan manfaat apabila masyarakat berada dalam kondisi aman untuk bekerja, belajar, berusaha, dan berinteraksi. Karena itu, setiap pihak perlu menempatkan kepentingan masyarakat luas di atas agenda kelompok.

Jangan sampai provokasi mengganggu kesempatan Papua untuk menatap masa depan. Kedamaian adalah modal pembangunan, sementara persatuan merupakan kekuatan untuk memastikan pembangunan tersebut benar-benar dirasakan masyarakat. Menolak provokasi bukan berarti menolak aspirasi, melainkan memilih cara yang lebih bertanggung jawab untuk menyampaikan perbedaan. Masa depan Papua terlalu berharga untuk dipertaruhkan oleh tindakan yang dapat memecah masyarakat. Yang dibutuhkan adalah Papua yang aman, damai, produktif, dan mampu memberikan ruang seluas-luasnya bagi generasi mendatang untuk tumbuh dan menentukan masa depannya dengan optimisme.
*Penulius adalah Mahasiswa Papua di Jawa Timur

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *