Oleh : Astrid Widia )*
Bangsa Indonesia kembali diuji oleh peristiwa yang menyisakan duka sekaligus keresahan. Namun di tengah suasana ini, pesan dari keluarga korban dan tokoh bangsa menegaskan bahwa sudah saatnya aksi demonstrasi yang berujung ricuh disudahi demi menjaga kedamaian bersama.
Majelis Ulama Indonesia (MUI) menjadi salah satu pihak yang menyampaikan seruan damai. MUI menegaskan bahwa unjuk rasa memang merupakan bagian dari hak warga negara, tetapi bila demonstrasi itu berubah menjadi tindakan anarkis yang menimbulkan kerusakan, keresahan, serta kesulitan bagi masyarakat luas, maka sepatutnya dihentikan segera. Ketua Bidang Informasi dan Komunikasi Dewan Pimpinan MUI, Masduki Baidlowi, menekankan bahwa pendemo sebaiknya pulang ke rumah masing-masing agar tidak menambah beban masyarakat lain. Pesan ini sederhana, tetapi jelas mencerminkan kepedulian terhadap ketenteraman bersama.
Masduki menambahkan, dampak dari kericuhan tidak bisa dianggap sepele karena langsung berpengaruh terhadap aktivitas sehari-hari, khususnya masyarakat kelas menengah ke bawah yang menggantungkan hidup dari kerja harian. Menurutnya, ketika jalan-jalan ditutup dan situasi tidak kondusif, maka mereka yang harus mencari nafkah akan paling terdampak. Dari sinilah terlihat bahwa menjaga ketertiban bukan sekadar soal aturan negara, tetapi soal kepedulian terhadap sesama warga.
Seruan senada juga datang dari Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 Republik Indonesia, Jusuf Kalla. Dalam keterangannya, ia mengimbau semua pihak agar menahan diri, menjaga situasi tetap aman, serta tidak memperluas ketegangan. Ia mengingatkan, bila kondisi ini terus meluas, maka dampaknya akan langsung menghantam sendi-sendi kehidupan masyarakat. Ekonomi bisa tersendat, perdagangan terhenti, dan pada akhirnya rakyat kecil lagi yang harus menanggung beban paling berat.
JK mengingatkan bahwa gejolak di jalanan bukanlah solusi, karena efeknya bisa berlangsung panjang. Ia pun menyampaikan rasa belasungkawa mendalam atas meninggalnya Affan Kurniawan, seorang pengemudi ojek online yang menjadi korban dalam insiden saat demonstrasi. Menurutnya, kehilangan nyawa anak bangsa di tengah keresahan seharusnya menjadi alarm bagi kita semua bahwa aksi anarkis tidak sepatutnya terus dilanjutkan.
Empati juga ditunjukkan langsung oleh Presiden Prabowo Subianto. Malam setelah peristiwa, beliau mendatangi rumah duka Affan Kurniawan bersama rombongan pejabat negara. Kehadirannya menjadi simbol nyata bahwa negara hadir bersama rakyat dalam duka. Sejak pagi, Presiden Prabowo sudah menyampaikan belasungkawa melalui media sosial, menegaskan bahwa pemerintah turut berduka atas kehilangan ini. Dalam keterangannya, beliau mengakui adanya tindakan aparat yang berlebihan dalam mengamankan aksi dan menegaskan bahwa semua pihak yang terbukti melanggar akan dimintai pertanggungjawaban sesuai hukum.
Presiden menegaskan, apabila ada aparat yang bertindak di luar kepatutan, tindakan hukum akan diberikan sekeras-kerasnya. Pernyataan ini memperlihatkan komitmen pemerintah dalam menjunjung keadilan serta memastikan aparat negara tidak kebal hukum. Bagi masyarakat, sikap ini adalah jaminan bahwa negara bekerja secara adil untuk semua.
Namun pesan paling menyentuh justru datang dari keluarga korban sendiri. Zulkifli, ayah Affan Kurniawan, dengan ketabahan luar biasa meminta agar tragedi yang menimpa anaknya tidak menimbulkan korban baru. Ia memohon agar rekan-rekan seprofesi anaknya tidak melakukan aksi balasan dan menyerahkan sepenuhnya penanganan kasus ini kepada aparat penegak hukum. Dengan suara yang bergetar, ia mengatakan cukup anaknya yang menjadi korban. Pernyataan itu mencerminkan kebesaran hati dan sekaligus seruan damai yang harus kita dengar bersama.
Suara keluarga korban, tokoh agama, tokoh bangsa, dan presiden sejatinya berpadu menjadi satu: hentikan kekerasan, sudahi kericuhan, dan kembalilah pada jalan damai. Semua pihak mengingatkan bahwa demo anarkis hanya menimbulkan luka baru, baik bagi korban langsung maupun bagi masyarakat luas.
Realitas di lapangan menunjukkan bahwa kerugian akibat demo anarkis sangat besar. Jalanan yang macet total, transportasi umum terganggu, pedagang terpaksa menutup warung lebih cepat, hingga pekerja harian kehilangan pemasukan. Bukan hanya kerusakan fisik yang ditinggalkan, tetapi juga ketidakpastian ekonomi yang menggerogoti rakyat kecil. Apalagi Indonesia masih dalam tahap pemulihan ekonomi, situasi semacam ini hanya akan menambah berat beban yang sudah ditanggung masyarakat.
Karena itu, kita harus melihat lebih jauh: apakah demonstrasi dengan cara anarkis benar-benar membawa solusi? Tuntutan yang disuarakan bisa disampaikan melalui cara-cara damai, dialog, maupun mekanisme hukum yang tersedia. Menyampaikan aspirasi bukan berarti mengorbankan ketenteraman publik. Justru, demokrasi yang sehat ditandai oleh kebebasan berpendapat yang disampaikan dengan cara beradab, tanpa merugikan orang lain.
Sejarah panjang bangsa ini mencatat banyak peristiwa ketika kerusuhan jalanan hanya meninggalkan luka yang sulit disembuhkan. Dari pengalaman itulah kita seharusnya belajar. Menyudahi aksi anarkis bukanlah bentuk kelemahan, melainkan bentuk kebijaksanaan untuk mencegah agar korban tidak bertambah.
Tragedi yang menimpa Affan Kurniawan seharusnya menjadi pengingat bahwa kekerasan tidak akan membawa manfaat. Kita semua berduka, tetapi jangan biarkan duka itu melahirkan duka baru. Kini saatnya masyarakat kembali ke rumah dengan hati yang tenang, menyudahi demonstrasi, serta membiarkan hukum bekerja demi menegakkan keadilan. Indonesia butuh kedamaian, dan kedamaian itu hanya bisa hadir bila kita bersama-sama menutup pintu kericuhan.
)* Penulis adalah kontributor Lingkar Khatulistiwa
Leave a Reply